Warak Ngendog
Warak ngendog

Ringkasan
Warak ngendog adalah hewan rekaan khas Semarang, perpaduan beberapa hewan yang membawa telur, yang diarak dalam tradisi Dugderan menjelang Ramadan dan oleh masyarakat dimaknai sebagai lambang tiga etnis kota itu.
The warak ngendog is a fanciful beast of Semarang, a blend of animals carrying eggs, paraded in the Dugderan tradition before Ramadan and read by the community as a symbol of the city's three ethnic groups.
Kisah dan tradisi
Warak ngendog adalah makhluk mitos yang menyerupai badak dengan telur di punggungnya. Ia dirayakan dalam Festival Dugderan di Semarang menjelang Ramadan dan diyakini mewakili tiga kelompok etnis di Semarang: Jawa, Tionghoa, dan Arab. Kepalanya seperti naga (Tionghoa), sedangkan tubuhnya perpaduan buraq (Arab) dan kambing (Jawa). Sumber-sumber menggambarkan wujudnya sedikit berbeda. Satu kajian jurnal menyebutnya binatang rekaan berkaki empat dan berekor, berbadan seperti kambing, berleher panjang seperti unta, berkepala naga, dan berbulu keriting warna-warni seperti pitik walik. Wikipedia mencatat penggambaran sebagian jerapah, singa, naga Tionghoa, kuda, dan burung. Warak ngendog dulu menjadi mainan anak yang sangat populer di Semarang dan dijual saat Dugderan, pasar rakyat yang digelar di Pasar Johar setiap bulan Syakban untuk menyambut Ramadan. Mainan itu berbentuk hewan berkaki empat dari kerangka kayu berbungkus bulu kertas warna-warni, dengan telur di antara kakinya. Seiring waktu ia menjadi maskot utama pawai Dugderan dan berubah menjadi patung raksasa, sementara sebagai mainan ia kian tergusur mainan modern. Nama Dugderan berasal dari bunyi bedug (dug) di Masjid Besar Semarang dan bunyi meriam (der). Tradisi ini konon sudah ada pada 1881-1889, saat Semarang diperintah Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat, meskipun satu kajian menyebut tidak ada sumber tertulis yang pasti dan hanya menduga ia dimulai sejak 1881. Puncaknya adalah karnaval yang menampilkan warak ngendog bersama pasukan merah putih, drumband, dan meriam. Menurut sebuah buku yang dirujuk detikJateng, kata warak diadaptasi dari bahasa Arab yang berarti suci, dan ngendog adalah kata Jawa yang bermakna bertelur. Tafsiran lain menyebut warak dalam bahasa Jawa berarti binatang mitos bertanduk seperti badak, atau berasal dari kata buraq; seorang informan kajian jurnal mengaitkannya dengan kata Arab waro'a yang berarti menghindari larangan Allah, dan kajian itu menyebut ngendog bermakna kemenangan. Telur disebut sebagai simbol kesucian.
The warak ngendog is a mythical, rhinoceros-like beast that bears eggs upon its back. It is celebrated in Semarang's Dugderan Festival before Ramadan and is believed to represent three ethnic groups in Semarang: Javanese, Chinese and Arab. Its head is like a dragon (Chinese), while its body combines the buraq (Arab) and a goat (Javanese). Sources describe its form somewhat differently. One journal study calls it an imagined four-legged, tailed animal with a goat-like body, a long camel-like neck, a dragon head and colourful curly feathers like the pitik walik. Wikipedia records descriptions as part giraffe, lion, Chinese dragon, horse and bird. The warak ngendog was once a very popular children's toy in Semarang, sold during Dugderan, a people's market held at Johar Market every month of Sya'ban to welcome Ramadan. The toy is a four-legged animal made of a wooden frame wrapped in colourful paper feathers, with an egg between its legs. Over time it became the main mascot of the Dugderan parade and grew into a giant statue, while as a toy it has been increasingly displaced by modern toys. The name Dugderan comes from the sound of the drum (dug) at the Great Mosque of Semarang and the cannon (der). The tradition is said to date from 1881-1889, when Semarang was ruled by Regent Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat, although one study says there is no definite written source and only presumes it began in 1881. Its climax is a carnival featuring the warak ngendog together with red-and-white troops, a drumband and cannons. According to a book cited by detikJateng, warak is adapted from the Arabic for holy, and ngendog is a Javanese word meaning laying eggs. Other readings say warak in Javanese means a horned mythical beast like a rhinoceros, or comes from buraq; an informant of the journal study links it to the Arabic waro'a, meaning to avoid what God forbids, and the study says ngendog carries the meaning of victory. The egg is described as a symbol of purity.
Konteks budaya
Masyarakat luas memaknai warak ngendog sebagai simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Cina di Semarang. Kajian jurnal yang dikutip menegaskan bahwa pada bentuk awalnya ia tidak dimaksudkan demikian, melainkan sarana menanamkan nilai keislaman kepada anak-anak, dan bahwa pesan moralnya adalah mengendalikan nafsu lewat puasa menuju kesucian.
The wider community reads the warak ngendog as a symbol of Javanese, Arab and Chinese acculturation in Semarang. The cited journal study stresses that in its original form it was not meant that way but as a means to instil Islamic values in children, and that its moral message is to control negative urges through fasting toward purity.
Fakta utama
- Budaya / Culture
- Folklor Indonesia
- Kawasan / Region
- Asia Tenggara
- Negara / Country
- Indonesia
- Era
- The Dugderan tradition, in which the warak ngendog is paraded, is said to date from 1881-1889, or presumably from 1881; warak forms are grouped from around the 1930s.
- Klasifikasi / Classification
- Hybrid
Nama lain / Alternate names
Warak Ngendhog
Tahukah kamu? / Did you know?
Menurut satu kajian jurnal, pada bentuk awalnya warak ngendog tidak dimaksudkan sebagai simbol tiga budaya, melainkan binatang rekaan untuk mainan anak.
According to one journal study, the warak ngendog was originally not meant as a symbol of three cultures but as an imagined animal for a children's toy.