Bedawang Nala

ᬩᭂᬤᬯᬂᬦᬮ

Bedawang Nala
Ilustrasi editorial · interpretasi artistik AI

Ringkasan

Bedawang Nala adalah penyu raksasa dalam mitologi Bali yang memikul seluruh dunia di punggungnya; bila ia bergerak, terjadilah gempa dan letusan gunung berapi.

Bedawang Nala is a giant turtle of Balinese mythology that carries the whole world on its back; when it moves, earthquakes and volcanic eruptions occur.

Kisah dan tradisi

Bedawang Nala adalah penyu raksasa dari mitologi Bali yang memikul seluruh dunia di punggungnya. Dalam mitos penciptaan, ia disebut perubahan wujud Anantaboga dan, bersama dua ular naga, menopang dunia manusia. Bila ia bergerak, bumi diguncang gempa dan gunung berapi meletus. Menurut Wikipedia bahasa Prancis, Bedawang termasuk dalam mitos penciptaan Hindu Bali dan tercipta dari semadi ular kosmis Antaboga. Dua naga, Naga Basuki dan Naga Antaboga, yang melambangkan kebutuhan manusia, bertindak sebagai penstabil. Sebuah kajian jurnal menamai kedua naga yang membelit kura-kura itu Naga Basuki dan Naga Anantabhoga, yang melambangkan air dan tanah, dan menyebut bahwa mereka ditugaskan mengawasi dan mencegah setiap gerakan sang kura-kura. Dalam mitologi rakyat Bali dan Jawa, kura-kura raksasa digambarkan menyangga sebuah pulau di punggungnya, dan bila ia bergerak terjadilah gempa bumi. Ornamen bedawang nala lazimnya berwujud kura-kura raksasa berambut api dengan mulut berapi yang dibelit seekor atau dua ekor naga, dan menjadi dasar penyangga bangunan meru. Contohnya terdapat di Pura Taman Sari, Klungkung, dengan seekor naga, dan di Pura Kehen, Bangli, dengan dua naga. Secara umum, penggambaran Bedawang dalam seni dan ornamen terwujud dalam dua bentuk, yaitu teriomorfik dan terio-antropomorfik. Istilah bedawang nala berasal dari bahasa Sanskerta vadava, yang berarti kuda betina, dan berhubungan erat dengan Vadavamukha atau Vadavanala, kepala kuda betina berapi di dasar laut dalam mitologi Hindu di India; kata anala sendiri berarti api. Seorang peneliti menyebut konsep itu diadaptasi di Bali menjadi kura-kura berapi raksasa di dasar laut, karena menurut Hooykaas penyu sudah dikenal dan hidup di perairan Pulau Bali. Di alam nyata, kura-kura berapi itu dinyatakan sebagai simbol magma di perut bumi, dan sebagai simbol konsep neraka bila berada di dasar bangunan meru. Dalam cerita wayang, Bedawang Nala adalah seorang pendeta berasal dari pertapaan Gisik Samodra atau Eka Pratala, tinggal di sungai Wailu, dan memiliki Cupu Manik Astagina serta Cupu Tirta Manik berisi air kehidupan. Ia disebut berkekuatan gaib luar biasa dan mampu menghancurkan sebuah pulau dengan satu pukulan. Teks Korawasrama memuat kalimat "Nusa yawa kasangga de badawang nala". Penyu laut dahulu diburu dan dipersembahkan dalam upacara dengan kepalanya melambangkan Bedawang; kini para pemuka agama Bali menetapkan bahwa gambar atau kue beras berbentuk penyu boleh dipakai sebagai gantinya.

Bedawang Nala is a giant turtle of Balinese mythology that carries the whole world on its back. In the creation myth it is a transformation of Anantaboga, and together with two dragon-serpents it supports the human world. When it moves, earthquakes and volcanic eruptions occur. According to the French Wikipedia, Bedawang is part of the Balinese Hindu creation myth and was created from the meditation of the cosmic serpent Antaboga. Two nagas, Naga Basuki and Naga Antaboga, representing human needs, act as stabilizers. A journal study names the two nagas coiling the turtle Naga Basuki and Naga Anantabhoga, symbolizing water and earth, and says they are charged with watching and preventing every movement of the turtle. In Balinese and Javanese mythology a giant turtle is depicted supporting an island on its back, and when it moves an earthquake occurs. The bedawang nala ornament usually shows a giant turtle with fiery hair and a fiery mouth coiled by one or two nagas, forming the base that supports a meru building. Examples are at Pura Taman Sari, Klungkung, with one naga, and at Pura Kehen, Bangli, with two nagas. In general, Bedawang is represented in art and ornamentation in two forms, theriomorphic and therio-anthropomorphic. The term bedawang nala comes from the Sanskrit vadava, meaning a mare, and is closely related to Vadavamukha or Vadavanala, the head of a fiery mare on the seabed in Hindu mythology in India; the word anala itself means fire. One researcher says the concept was adapted in Bali into a giant fiery turtle on the seabed because, according to Hooykaas, turtles were well known and live in the waters of Bali. In the real world the fiery turtle is said to symbolize magma in the belly of the earth, and the concept of hell when placed at the base of a meru building. According to the puppet story, Bedawang Nala is a priest of the Gisik Samodra (or Eka Pratala) hermitage, living in the Wailu river and owning the Cupu Manik Astagina and Cupu Tirta Manik, vessels of the water of life. He is said to have extraordinary supernatural powers and to be able to make an island fall apart with one blow. The Korawasrama contains the sentence "Nusa yawa kasangga de badawang nala". Sea turtles were once hunted and offered in ceremonies with their heads symbolizing Bedawang; Balinese religious leaders now decree that a turtle-shaped image or rice cake may be used instead.

Konteks budaya

Dalam kepercayaan Bali, kura-kura raksasa penyangga pulau dikaitkan dengan terjadinya gempa bumi, dan ornamennya dipasang di dasar bangunan meru; kini penyu laut yang dahulu dipersembahkan dalam upacara diganti gambar atau kue beras berbentuk penyu.

In Balinese belief the island-supporting giant turtle is linked to earthquakes and its ornament is placed at the base of meru buildings; sea turtles once offered in ceremonies may now be replaced by turtle-shaped images or rice cakes.

Fakta utama

Budaya / Culture
Folklor Indonesia
Kawasan / Region
Asia Tenggara
Negara / Country
Indonesia
Klasifikasi / Classification
Legendary Creature
Habitat
Water
Kemampuan / Abilities
Memikul dunia, Menghancurkan pulau

Nama lain / Alternate names

Bedawang, Badawang Nala

Tahukah kamu? / Did you know?

Di kalangan peneliti, ornamen kura-kura Bedawang Nala dibaca sebagai simbol magma di perut bumi yang dibelit naga tanah dan naga air.

Scholars read the Bedawang Nala turtle ornament as a symbol of magma in the belly of the earth, bound by an earth naga and a water naga.

Makhluk terkait / Related beings

Lanjutkan