Rangda

ᬭᬗ᭄ᬤ

Rangda
Ilustrasi editorial · interpretasi artistik AI

Ringkasan

Rangda adalah ratu para leak dalam mitologi Bali, sosok janda menyeramkan yang dalam tari Barong melambangkan kekuatan jahat yang selalu bertarung dengan Barong.

Rangda is the queen of the leyaks in Balinese mythology, a terrifying widow figure who in the Barong dance embodies the evil forces forever battling the Barong.

Kisah dan tradisi

Menurut mitologi tradisional Bali, Rangda adalah ratu iblis para leak. Ia memimpin pasukan penyihir jahat melawan Barong, pemimpin kekuatan baik, dan pertarungan keduanya ditampilkan dalam tari Barong sebagai lambang pertempuran abadi antara baik dan jahat. Namanya berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti janda. Rangda digambarkan sebagai perempuan tua yang hampir telanjang, berambut panjang kusut, berpayudara menggantung, dan bercakar. Wajahnya berupa topeng bertaring dengan mata melotot dan lidah panjang yang menjulur. Dalam pertunjukan, ia bergerak liar seperti binatang dengan langkah melompat, sementara nyala api tampak di atas matanya yang melotot dan di sepanjang lidahnya. Rangda dikaitkan dengan legenda Calon Arang, janda penyihir yang merusak Jawa pada masa pemerintahan Airlangga akhir abad ke-10, dan dengan legenda Mahendradatta, ratu Jawa yang diasingkan. Tafsiran lain menyebut Rangda berasal dari Mahendradatta, istri raja Bali Udayana dan ibu Airlangga, yang dikenal karena pengabdiannya pada pemujaan Durga di Bali. Dalam Hindu Bali, Rangda dipandang sebagai perwujudan Durga dan pasangan Dewa Siwa, dengan wilayah kekuasaan di kuburan. Topeng sakral Rangda disimpan di pura dalem, lalu diarak saat upacara ulang tahun pura. Lontar Siwa Tattwa dan Lontar Usada Taru Premana menyebutnya perwujudan Dewi Durga di bumi dengan gelar Hyang Bherawi. Para peneliti menekankan bahwa Rangda lebih dari sekadar tokoh jahat. Dalam pertarungan yang dipentaskan setidaknya setahun sekali di desa-desa Bali, Rangda dikalahkan tetapi tidak pernah dibunuh, karena energi negatifnya hidup berdampingan dengan energi positif. Hubungan Rangda dan Barong dipahami melalui konsep Rwa Bhineda, filosofi Bali tentang keseimbangan dua kutub yang berlawanan.

According to traditional Balinese mythology, Rangda is the demon queen of the leyaks. She leads an army of evil witches against the Barong, leader of the forces of good, and their battle is staged in the Barong dance as the eternal struggle between good and evil. Her name comes from an Old Javanese word meaning 'widow'. Rangda is depicted as a mostly nude old woman with long unkempt hair, pendulous breasts and claws. Her face is a fanged, goggle-eyed mask with a long protruding tongue. In performance she moves wildly like an animal with a leaping gait, while flames rise above her bulging eyes and along her tongue. Rangda is linked to the legend of Calon Arang, the widow-witch who wreaked havoc in Java during Airlangga's reign in the late 10th century, and to the legend of Mahendradatta, an exiled Javanese queen. Another interpretation derives Rangda from Mahendradatta, wife of the Balinese king Udayana and mother of Airlangga, known for her devotion to the cult of Durga in Bali. In Balinese Hinduism Rangda is seen as a manifestation of Durga and consort of the god Siwa, and her realm is the cemetery. Sacred Rangda masks are kept in village temples of the dead and brought out in procession for temple anniversary ceremonies. The Lontar Siwa Tattwa and Lontar Usada Taru Premana identify her as the goddess Durga on earth, with the title Hyang Bherawi. Researchers stress that Rangda is more than a villain. In the battle reenacted at least once a year in Balinese villages, Rangda is defeated but never killed, because her negative energy coexists with the positive. The relationship between Rangda and Barong is understood through Rwa Bhineda, the Balinese philosophy of balance between two opposing poles.

Konteks budaya

Dalam Hindu Bali, upaya menjaga keseimbangan kekuatan yang berlawanan, seperti baik dan jahat, meresapi seluruh kehidupan, dan Rangda bersama Barong menjadi perwujudan keseimbangan itu dalam ritual dan pertunjukan.

In Balinese Hinduism the effort to keep opposing forces such as good and evil in balance pervades all of life, and Rangda and the Barong embody that balance in ritual and performance.

Fakta utama

Budaya / Culture
Folklor Indonesia
Kawasan / Region
Asia Tenggara
Negara / Country
Indonesia
Klasifikasi / Classification
Demon
Habitat
Graveyard
Kemampuan / Abilities
Ilmu hitam

Nama lain / Alternate names

Hyang Bherawi

Tahukah kamu? / Did you know?

Dalam pertarungan dengan Barong, Rangda selalu kalah tetapi tidak pernah dibunuh, karena kekuatan baik dan jahat dianggap saling melengkapi.

In her battle with the Barong, Rangda is always defeated but never killed, because good and evil are seen as complementing each other.

Makhluk terkait / Related beings

Lanjutkan