Yeti

Ringkasan
Yeti adalah makhluk mirip kera atau manusia berbulu dalam cerita Himalaya dan Tibet, digambarkan dengan rupa beragam; sampel yang diuji sebagai Yeti berkaitan dengan beruang setempat.
The yeti is a hairy ape- or human-like creature in Himalayan and Tibetan lore, depicted in varied ways; tested purported yeti samples matched local bears.
Kisah dan tradisi
Catatan tertulis legenda Tibet tentang Yeti telah ada sejak abad ke-12. Yeti dikatakan menghuni pegunungan Himalaya, dan sebagian kisah menggambarkannya mirip kera, berjalan dengan dua kaki, dan berbulu cokelat kemerahan; sumber lain menyebut bulunya cokelat, abu-abu, atau putih. Tradisi Tibet mengenal bentuk yang lebih besar yang berjalan dengan empat kaki dan memangsa ternak, serta tiga jenis bernama nyalmo, chuti, dan rang shim bombo. Dalam kisah, Yeti dikaitkan dengan hutan alpin di bawah garis salju dan dapat terdengar bersiul pada malam hari. Menurut H. Siiger, yeti merupakan bagian dari kepercayaan pra-Buddhis beberapa bangsa Himalaya, dan penganut Bön dahulu percaya darah "Mi rgod" atau "manusia liar" berguna dalam upacara tertentu. Dalam Buddhisme Tibet, yeti dianggap hewan bukan manusia yang kadang dapat mengikuti Dharma; beberapa kisah menjadikannya pembantu atau murid tokoh agama, dan gambarnya diarak sebagai pelindung dari roh jahat. Kisah Buddhis Tibet menggambarkan yeti sebagai sosok yang baik maupun jahat, dan melihatnya sering dianggap pertanda buruk. Pelaporan Barat tercatat sejak 1832, ketika pemandu B. H. Hodgson di Nepal utara melihat makhluk tinggi berbulu gelap yang ia simpulkan sebagai orangutan. Nama "abominable snowman" diciptakan pada 1921 dan lahir dari salah terjemah kata "metoh". Minat Barat memuncak pada 1950-an setelah pendaki Everest melaporkan jejak, dan Pemerintah Nepal mengeluarkan aturan bagi ekspedisi pencarian. Gambaran populer berbulu putih tidak tercatat dalam cerita rakyat sebelum abad ke-20. Sebagian peneliti mengaitkan yeti dengan beruang setempat. Analisis DNA mitokondria sampel yang diklaim sebagai yeti mendukung identifikasinya sebagai beruang lokal, dan Reinhold Messner menyatakan pada 1986 bahwa yeti adalah beruang cokelat Himalaya. Para folklorist menelusuri asalnya ke cerita rakyat Sherpa dan fauna yang salah dikenali. Para peneliti menyebut identitas sosok mirip manusia dalam kisah itu masih menjadi teka-teki.
Written Tibetan yeti lore dates back to the twelfth century. The yeti is said to inhabit the Himalayan mountain range, and some stories describe a reddish-brown-haired, ape-like biped, while other sources give brown, grey or white hair. Tibetan tradition also knows a larger four-legged livestock predator, and three named varieties: the nyalmo, chuti and rang shim bombo. The creature is associated in stories with alpine forest below the snow line and nocturnal whistling. According to H. Siiger, the yeti was part of the pre-Buddhist beliefs of several Himalayan peoples, and followers of Bön once believed the blood of the "Mi rgod" or "wild man" was used in certain ceremonies. In Tibetan Buddhism the yeti is considered a nonhuman animal that can sometimes follow Dharma; some stories make it a helper or disciple of religious figures, and its images are paraded as guardians against evil spirits. Tibetan Buddhist stories portray yetis as both kind and malevolent, and seeing one is often considered a bad omen. Western reports date from 1832, when guides of B. H. Hodgson in northern Nepal spotted a tall dark-haired creature that he concluded was an orangutan. The name "abominable snowman" was coined in 1921 and arose from a mistranslation of the word "metoh". Western interest peaked in the 1950s after Everest climbers reported footprints, and the government of Nepal issued regulations for expeditions. The familiar white-furred image lacks folkloric support before the twentieth century. Some researchers associate the yeti with local bears. Mitochondrial DNA analysis of purported yeti samples supported identifying them as local bears, and Reinhold Messner claimed in 1986 that the yeti is the Himalayan brown bear. Folklorists trace its origin to Sherpa folklore and misidentified fauna. The researchers noted that the identity of the humanoid figures in the wider lore remains uncertain.
Konteks budaya
Tradisi Tibet mengarak gambar yeti dan kadang memuliakannya sebagai pelindung dari roh jahat; namun karena yeti dapat menegakkan Dharma, bertemu dengannya sering dianggap pertanda buruk.
Tibetan tradition parades images of yetis and sometimes venerates them as protectors against evil spirits; yet since yetis may enforce Dharma, encountering one is often taken as a bad omen.
Fakta utama
- Budaya / Culture
- Tradisi Tibet
- Kawasan / Region
- Asia Timur
- Era
- Written Tibetan legend since the twelfth century; Western reports since 1832
- Klasifikasi / Classification
- Cryptid
- Habitat
- Forest
Nama lain / Alternate names
Abominable Snowman, Metoh-kangmi, Bun manchi
Tahukah kamu? / Did you know?
Nama "abominable snowman" muncul dari salah terjemah: Henry Newman menerjemahkan kata "metoh" sebagai "kotor" (filthy).
The name "abominable snowman" arose from a mistranslation: Henry Newman rendered the word "metoh" as "filthy".